Daftar Bank Indonesia

Lebih Untung Klaim Reimburse Atau Cachless

Klaim Reimburse Atau Cachless – Kepedulian masyarakat Indonesia tentang kesehatan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya jumlah nasabah pada produk asuransi kesehatan. Seperti yang diketahui, asuransi kesehatan berfungsi sebagai perlindungan ketika seseorang menderita sakit dan terpaksa dirawat di rumah sakit.

Sebelum memiliki asuransi kesehatan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Mulai dari jumlah premi yang harus dibayarkan, kurun waktu, batasan usia, kredibilitas perusahaan asuransi, hingga klaim yang diberlakukan. Ketika seseorang jatuh sakit, ia berhak mengajukan klaim penggantian biaya kepada perusahaan asuransi, baik klaim secara reimburse maupun cashless.

Dari kedua cara pengajuan tersebut, manakah yang paling menguntungkan? Cari tahu perbedaannya di bawah ini :

Mekanisme Pengajuan Klaim oleh Nasabah

Reimburse dan cashless adalah metode pengajuan klaim asuransi yang berbeda. Untuk reimburse, nasabah harus melewati langkah demi langkah terlebih dahulu. Proses pengajuan klaimnya juga tergolong sedikit sulit. Setelah semuanya beres, barulah si nasabah boleh mendapat manfaat dari produk asuransi kesehatan yang bersangkutan.

Untuk cashless, cenderung mudah dan cepat. Nasabah hanya perlu datang ke klinik dan menunjukkan kartu keanggotaannya di perusahaan asuransi kesehatan. Setelah itu, pihak rumah sakit atau klinik akan mengecek validitas dari kartu tersebut. Layaknya kartu kredit, kartu keanggotaan nantinya akan digesek untuk mengetahui masih aktif atau tidak.

Baca juga BEBERAPA CARA MEMAHAMI POLIS ASURANSI

Peran Bank Sentral Indonesia

Peran Bank Indonesia – Sebagai Badan Mediasi Perbankan, Secara lengkap apa itu Badan Mediasi Perbankan, fungsi dan keunggulannya serta tata cara mengajukan permohonan kepada Badan Mediasi Perbankan akan dijelaskan sebagai berikut.

1. Mediasi perbankan merupakan proses penyelesaian sengketa antara nasabah dengan pihak bank yang difasilitasi Bank Indonesia dalam rangka untuk mencapai penyelesaian dalam bentuk kesepakatan sukarela.

2. Mediasi melalui jalur ini memiliki keunggulan dalam menyelesaikan sengketa dengan murah, cepat, dan sederhana, karena tidak dipungut biaya, jangka waktu proses mediasi paling lama 60 hari kerja, dan proses mediasi dilakukan secara informal atau fleksibel.

3. Adapun sengketa yang dapat diselesaikan melalui mediasi perbankan adalah sengketa antara nasabah dengan pihak bank menyangkut aspek transaksi keuangan dengan ketentuan nilai sengketa setinggi-tingginya 500 juta.

4. Sebelum melakukan proses mediasi, nasabah dan bank harus menandatangani perjanjian mediasi yang memuat kesepakatan untuk memilih mediasi sebagai alternatif penyelesaian sengketa dan persetujuan untuk patuh serta tunduk pada aturan mediasi.

5. Dalam pertemuan mediasi tersebut, Bank Indonesia hanya bertindak sebagai mediator yang akan bersikap netral, memotivasi para pihak untuk menyelesaikan sengketa, dan tidak memberikan rekomendasi atau keputusan karena hasil penyelesaian antara pihak yang bersengketa merupakan murni kesepakatan antara nasabah dengan pihak bank.

6. Setelah tercapai kesepakatan, maka nasabah dan pihak bank akan menandatangani akta kesepakatan. Namun apabila tidak di capai kesepakatan maka nasabah dapat mengupayakan penyelesaian lanjutan melalui jalur arbitrase atau pengadilan.

Adapun untuk pengajuan permohonan dapat dilakukan secara langsung melalui alamat :

Bank Indonesia, Departemen Investigasi dan Mediasi Perbankan

Menara Radius Prawiro, Lantai 19

Jalan. MH Thamrin No. 2 Jakarta 10350

Telepon (021) 3818923 atau (021) 3818935

Email : mediasi@bi.go.id

Dalam proses pengajuan tersebut, pastikan telah melampirkan persyaratan permohonan mediasi secara tertulis sebagaimana format yang ditetapkan oleh Bank Indonesia serta dokumen pendukung, yaitu :

  • Formulir pengajuan penyelesaian sengketa.
  • Fotokopi surat hasil penyelesaian pengaduan yang diberikan bank kepada nasabah, fotokopi identitas nasabah yang masih berlaku.
  • Surat pernyataan yang ditandatangani di atas materai yang cukup bahwa sengketa yang diajukan tidak sedang dalam proses atau telah mendapat keputusan dari lembaga arbitrase, peradilan, atau lembaga mediasi lainnya, serta belum pernah diproses dalam mediasi perbankan yang difasilitasi Bank Indonesia.
  • Fotokopi dokumen pendukung yang terkait dengan sengketa yang diajukan.
  • Fotokopi surat kuasa khusus tanpa hak subsitusi, dalam hal pengajuan penyelesaian sengketa diwakilkan/dikuasakan. Namun demi kelancaran proses mediasi diharapkan para pihak yang bersengketa hadir dalam pertemuan tersebut agar keinginan masing-masing pihak dapat dikemukakan secara langsung.

Hindari Kesalahan Penggunaan Kartu Kredit

Hindari Kesalahan Penggunaan Kartu Kredit – Ketika sudah memasuki usia 30-an berarti sudah berada di posisi kedewasaan yang sudah semakin matang secara menyeluruh. Kedewasaan itu bisa dilihat dari perilaku yang semakin baik, memiliki pola pikir yang bagus, mampu menjaga emosional, hingga bertanggung jawab terhadap semua hal.

Namun, pada kenyataannya tingkat dewasa seseorang tidak bisa diukur dari usianya. Masih banyak orang yang sudah memasuki usia 30an tapi tidak bertanggung jawab pada finansialnya, salah satunya adalah penggunaan kartu kredit yang salah dan terus dibiarkan tanpa adanya perbaikan. Padahal, kesalahan tersebut bisa menimbulkan kerugian yang sangat besar, yaitu berupa hutang.

Tentunya hal tersebut tidak mau Anda alami, bukan? Nah, berikut beberapa daftar kesalahan yang sering dilakukan pengguna kartu kredit. Cek kembali dan lakukan perbaikan sebelum keuangan menjadi hancur.

1. Laporan Kartu Kredit Tidak Dibaca

Walau membayar tagihan kartu kredit secara online, bukan berarti kita bersikap cuek pada laporan kartu kredit. Bahkan ada saja orang yang tidak menyentuh laporannya dan dibiarkan tergeletak di meja pojok rumah. Padahal, membaca laporan kartu kredit merupakan hal yang penting dilakukan. Tujuannya agar mengetahui pengeluaran secara rinci dari penggunaan kartu kredit.

2. Bayar Tagihan Terlambat

Terlambat atau menunda pembayaran tagihan kartu kredit akan berdampak buruk bagi penggunanya. Selain dikenakan denda yang membuat tagihan kartu kredit semakin membengkak, Anda juga akan dicap sebagai kolektabilitas buruk oleh bank sehingga merusak riwayat pebankan. Artinya, akan semakin sulit mendapatkan pinjaman atau pengajuan kartu kredit lainnya.

3. Hanya Melakukan Pembayaran Minimum

Tidak ada yang melarang jika pengguna kartu kredit hanya melakukan pembayaran pada cicilan minimumnya saja. Tapi kalau ini dilakukan secara terus menerus, maka sisa tagihan yang belum terbayarkan serta bunga akan menjadi tumpukan hutang yang semakin besar. Jika kesalahan tersebut masih dilakukan, maka mau tidak mau Anda akan menghadapi kondisi keuangan yang semakin kacau.

4. Tidak Bayar Tagihan

Memiliki hutang kartu kredit yang begitu besar dan merasa tidak sanggup untuk membayarnya sehingga Anda memutuskan berhenti membayar hutang seluruhnya. Hal ini adalah salah satu kesalahan besar yang sering dilakukan pengguna kartu kredit di usia 30an.

Memang benar pihak bank akan menutup akun kartu kredit kalau selama enam bulan tidak melakukan pembayaran. Tapi bukan berarti Anda terbebas dari tagihan. Justru pihak bank akan terus menagih paksa Anda melakukan pelunasan hutang dengan mendatangkan debt collector ke rumah.

Baca juga PENTING NYA NPWP SAAT PENGAJUAN KREDIT

Kredit Tanpa Agunan

Kredit Tanpa Agunan – Bagi Anda yang sudah pernah meminjam uang pada pihak bank atau lembaga kredit pinjaman lain, Anda pasti sudah tidak asing dengan istilah agunan. Bagi Anda yang belum, agunan adalah sebuah aset dari debitur yang diberikan pada pihak bank sebagai jaminan.

Meskipun sama-sama untuk meminjam uang, tapi kedua kredit tersebut memiliki karakter yang berbeda. Persyaratan untuk mendapatkan pinjamannya pun juga berbeda. Mari kita tinjau lebih jauh lagi mengenai perbedaannya dengan menggunakan Kredit Tanpa Agunan sebagai pembanding.

1. Kredit Tanpa Agunan
Kredit jenis ini tidak meminta suatu jaminan sebagai sebuah syarat untuk meminjam uang. Sebagai ganti jaminan tersebut, pihak bank akan melakukan sedikit pemeriksaan mengenai kelayakan calon debitur dengan cara memeriksa catatan kredit dan kemampuan finansial calon debitur untuk melunasi pinjaman.

Catatan tersebut didapatkan dari BI Checking, yang datanya didapat dari kumpulan berbagai bank dan lembaga peminjaman uang dalam periode waktu 24 bulan terakhir. Kemudian, kemampuan finansial calon debitur akan diperiksa melalui slip gaji, NPWP, dan juga berkas-berkas yang mendukung.

Kelebihan Kredit Tanpa Agunan

Syarat Mudah : Kredit tanpa agunan diberikan tanpa ada syarat pengajuan agunan dari calon debitur keada kreditur. Karena itu, hal ini sangat membantu para calon debitur yang belum memiliki aset seperti rumah atau mobil. Untuk masalah kelengkapan dokumen, biasanya bank hanya akan meminta fotokopi KTP, kartu keluarga, dan catatan pembayaran kartu kredit.

Masa Pencairan Cepat : Kredit tanpa agunan juga bisa digunakan untuk keperluan darurat atau kebutuhan lain yang sifatnya mendesak. Hal tersebut dikarenakan bank tidak memerlukan agunan apapun dari calon debitur, sehingga dana bisa cari dalam waktu dua hingga tiga hari.

Tiap Bank Mempunyai Program KTA : Hampir semua bank menawarkan kredit tanpa agunan. Beberapa bank bahkan sangat gencar dalam memasarkan produk ini mengingat pangsa pasarnya yang relatif tinggi. Yang diperlukan oleh calon debitur adalah menentukan dana pinjaman yang akan dipinjam dan bisa langsung pergi ke lembaga keuangan pilihan.

Kekurangan Kredit Tanpa Agunan

 Bunga Tinggi : Salah satu kekurangan yang dimiliki kredit tanpa agunan adalah bunganya yang tinggi. Salah satu penyebabnya adalah karena produk ini tidak menyertakan jaminan sebagai salah satu syaratnya. Hal tersebut membuat bunga yang dibebankan menjadi tinggi.

Harus Mempunyai Kartu Kredit : Syarat lain dari kredit tanpa agunan adalah sudah memiliki kartu kredit paling tidak selama satu tahun. Hal tersebut sering membuat para calon debitur gagal mendapatkan pinjaman. Kebanyakan masyarakat belum mengetahui hal ini.

Limit Kecil, Tenor Pendek : Kekurangan yang paling mendasar dari kredit model ini adalah limitnya yang sedikit. Umumnya bank hanya menawarkan produk kredit tanpa agunan dengan limit sampai Rp 200 juta. Oleh karena limit yang relatif kecil itu, masa tenor juga menjadi pendek.

2. Kredit Multiguna

Sedikit berbeda dengan kredit tanpa agunan, kredit multiguna adalah sebuah program kredit yang mana pihak bank akan meminta calon debitur untuk menyertakan aset untuk dijadikan sebagai jaminan pembayaran. Nilai jaminan atau aset tidak boleh lebih rendah dari jumlah yang akan dipinjam.

Penting Nya Npwp Saat Pengajuan Kredit

Npwp Saat Pengajuan Kredit – Mungkin Anda pernah mendengar pengajuan kredit ke bank rekan Anda ditolak. Lalu, apa sih permasalahannya? Ada banyak banyak faktor tentunya yang membuat pengajuan kredit ke bank itu ditolak. Salah satunya yang paling sederhana namun terkadang tidak disadari, yakni kepemilikan NPWP (Nomot Pokok Wajib Pajak).

Kendati status orang tersebut bersih alias tidak masuk dalam kategori blacklist di BI checking, namun hanya karena tidak memiliki NPWP, tetap saja pengajuan pinjaman ke bank gagal juga. Untuk itu, penuhi semua persyaratan yang dibutuhkan agar upaya Anda untuk mengajukan kredit di bank tidak ada kendala.

Mungkin sebagian orang menanyakan kenapa NPWP ini begitu penting? Yup, keberadaan NPWP bagi setiap orang khususnya yang sudah memiliki penghasilan sendiri ini sangat penting. Sebab, hal ini terkait dengan kepatuhan seseorang terhadap kewajibannya membayar pajak.

Sebagai individu yang taat pajak, status tersebut bisa dibuktikan dengan kepemilikan NPWP di tangan. Bisa dibilang, keberadaan NPWP tak beda dengan kepemilikan KTP (Kartu Tanda Penduduk). Bila Anda tidak memiliki KTP, maka dalam mengurus segala sesuatunya juga tidak akan bisa berjalan lancar dan memperoleh apa yang dibutuhkan.

Sebab, semua administrasi di sebuah institusi nyaris selalu dibutuhkan adanya yang namanya identitas diri tersebut. Dengan KTP, maka informasi yang diperlukan mengenai diri Anda bisa diketahui. Hal ini tak ubahnya dengan NPWP, yang keberadaannya juga diperlukan sebagai cerminan dari diri bahwa Anda adalah warga negara yang baik.

Satu hal lagi, kewajiban memiliki NPWP dan membayar pajak juga telah diatur dalam UU No.28/2007 Pasal 39 Ayat 1, bahwa untuk warga negara Indonesia yang tidak membayar pajak akan dikenakan paling sedikit penjara 6 bulan dan paling lama 6 tahun. Selain itu, juga ada penerapan denda paling sedikit hingga dua kali lipat bagi mereka yang belum membayar kewajibannya tersebut.

Bicara mengenai pentingnya NPWP, bukan hanya berurusan dengan pihak perbankan, tapi wajib memiliki NPWP juga sebagai syarat untuk mengajukan berbagai dokumen yang dibutuhkan seperti pembuatan paspor, dan sebagainya. Apalagi bila Anda butuh dana cepat dari bank, syaratnya pasti melampirkan NPWP.

Lalu, Apa Kaitannya NPWP dengan Bank?

Ya, antara kepemilikan NPWP dengan administrasi perbankan tentunya sangat berkaitan erat. Karena hal ini sebagai salah satu acuan juga apakah sebagai individu, Anda bisa memenuhi tanggung jawab dan kewajiban dengan baik dan benar.

Gambaran sederhananya adalah tanpa dengan memiliki NPWP, maka pihak bank juga akan melihat seperti apa sosok pribadi Anda. Jika NPWP saja tidak punya, bagaimana bank percaya akan kemampuan Anda untuk membayar tagihan kredit nantinya?

Selain itu, kewajiban melampirkan NPWP juga sebagai bentuk kepatuhan perbankan yang telah diatur oleh pemerintah. Artinya, bila bank meloloskan berbagai urusan dengan nasabah yang tidak memiliki NPWP, maka bank tersebut juga menyalahi aturan yang ada. Tentu, bank juga tidak mau mengambil risiko yang sebenarnya bisa dihindari.

Baca juga HINDARI KESALAHAN PENGGUNAAN KARTU KREDIT